← Lihat Semua Berita
SEJARAH NAHDLATUL ULAMA

24 Juni 2026

SEJARAH NAHDLATUL ULAMA

Kebangkitan Ulama: Menapak Jejak Sejarah Nahdlatul Ulama Prolog: Fajar Kebangkitan Di awal abad ke-20, dunia Islam tengah mengalami pergolakan pemikiran. Di tanah Hijaz, perubahan kekuasaan yang membawa paham baru memicu kekhawatiran bagi ulama-ulama tradisionalis di Nusantara yang ingin tetap menjaga kebebasan bermazhab. Di dalam negeri, semangat nasionalisme mulai tumbuh, namun gerakan perjuangan masih terpecah-pecah. Bab I: Akar Persatuan Kebutuhan akan sebuah wadah yang mampu menjembatani aspirasi ulama pesantren dan menjadi benteng bagi praktik keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah menjadi sangat mendesak. Para tokoh besar, seperti KH Hasyim Asy'ari (Tebuireng, Jombang) dan KH Abdul Wahab Chasbullah, memelopori serangkaian diskusi intensif. Mereka tidak hanya memikirkan urusan keagamaan, tetapi juga nasib umat yang terbelenggu di bawah penjajahan kolonial Belanda. Bab II: Kelahiran (31 Januari 1926) Setelah melalui proses istiqarah dan kemantapan hati para kiai, sebuah organisasi resmi akhirnya berdiri pada 16 Rajab 1344 Hijriah, yang bertepatan dengan 31 Januari 1926 Masehi di Surabaya. Nama yang disepakati adalah Nahdlatul Ulama, yang berarti "Kebangkitan Ulama". Organisasi ini lahir dengan tujuan mulia: Melestarikan paham Ahlussunnah wal Jamaah. Memelihara tradisi keilmuan Islam. Membangun kemandirian umat. Bab III: Menjaga NKRI Sejak kelahirannya, NU selalu menempatkan Islam dan Nasionalisme sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan. Hal ini dibuktikan melalui: Resolusi Jihad (22 Oktober 1945): KH Hasyim Asy'ari mengeluarkan fatwa yang mewajibkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagai jihad fi sabilillah. Ini menjadi pemicu utama perlawanan heroik rakyat dalam Pertempuran 10 November di Surabaya. Penerimaan Pancasila: Pada Muktamar ke-27 di Situbondo (1984), NU dengan tegas menyatakan bahwa Pancasila sebagai ideologi negara adalah final dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Epilog: Warisan untuk Masa Depan Kini, Nahdlatul Ulama telah tumbuh menjadi organisasi keagamaan terbesar di dunia. Dengan jaringan pesantren yang luas, lembaga pendidikan, rumah sakit, dan pemberdayaan ekonomi, NU tetap konsisten mengusung nilai Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), I'tidal (tegak lurus), dan Tasamuh (toleran). Nahdlatul Ulama bukan sekadar organisasi. Ia adalah napas perjuangan, pelindung tradisi, dan penjaga keutuhan bangsa. Dari kiai untuk umat, dari pesantren untuk Indonesia, dan dari Indonesia untuk dunia. "Berjuanglah terus di Nahdlatul Ulama. Saya akan menganggap siapa yang berjuang di NU sebagai santri saya." — KH Hasyim Asy'ari